Desa Mekar Tani, Kec. Mendawai, Kab. Katingan, Kalimantan Tengah
Ditujukan kepada Gubernur Kalimantan Tengah melalui LaporGub
serta perhatian terhadap jalan desa dan akses transportasi sungai ke Sampit
Kami, warga Desa Mekar Tani, Kecamatan Mendawai, Kabupaten Katingan, dengan ini menyampaikan laporan pengaduan mengenai kondisi sinyal seluler yang sangat lemah di desa kami, serta keterisolasian akses transportasi ke kota Sampit yang turut memperparah kondisi warga.
Warga kami membutuhkan sinyal seluler yang mandiri dan dapat diandalkan melalui HP masing-masing untuk keperluan sehari-hari. Kebutuhan akses internet melalui HP sudah menjadi kebutuhan dasar — untuk komunikasi, layanan pemerintahan, perbankan digital, dan terutama pendidikan anak-anak kami.
Sinyal muncul hanya 1 bar dan sering hilang. Di wilayah terhalang pepohonan, sinyal hilang sepenuhnya.
Internet kadang tersambung tapi sering timeout. Browsing, e-learning, video call, dan aplikasi pemerintahan sangat sulit digunakan.
Pepohonan tinggi dan hutan lebat menghalangi sinyal dari tower BTS di Mendawai.
Warga harus cari tempat tinggi atau terbuka untuk sinyal. Itupun tidak menjamin bisa internet.
Anggaran jalan Mekar Tani–Mendawai sebesar Rp 9,5 miliar di APBD 2025 dipangkas/dirasionalisasi.
"Pembangunan ruas jalan dari Desa Mekar Tani ke Desa Mendawai sudah dianggarkan sekitar Rp 9,5 miliar. Namun tiba-tiba dilakukan pemangkasan kegiatan atau rasionalisasi."— Yudea Pratidina, Anggota DPRD Kab. Katingan (Media Dayak, 2025)
Di Mekar Tani hanya ada SD dan TK. Untuk SMP/SMK, anak-anak sekolah di Mendawai — sinyal di sana lancar. Tapi begitu pulang ke rumah, internet sangat sulit diakses — sering timeout dan tidak stabil.
Tidak ada jalan darat ke kota manapun. Satu-satunya akses ke Sampit adalah jalur sungai.
"Ada anak-anak kita yang harus dibawa menggunakan kendaraan ke daerah yang ada sinyal hanya untuk mengikuti ujian."— Hotden Manto Manalu, Kadis Kominfostandi Kab. Katingan (Portal Katingan, 30 April 2026)
Dokumentasi langsung dari lapangan — kondisi jalur sungai dan klotok yang menjadi satu-satunya akses warga Kec. Mendawai ke kota Sampit.
Berdasarkan seluruh uraian di atas, kami warga Desa Mekar Tani memohon kepada Bapak Gubernur:
Demikian laporan pengaduan ini kami sampaikan dengan data dan bukti yang sebenar-benarnya.
Kami tidak meminta yang muluk-muluk. Kami hanya ingin adik-adik kami bisa belajar dan mengikuti ujian dengan layak, perjalanan mereka ke sekolah aman tanpa melewati jalan rusak, warga bisa mengakses layanan digital, akses transportasi ke kota tidak lagi membahayakan nyawa, dan desa kami tidak lagi terisolasi — hak setiap warga negara Indonesia.
Atas perhatian dan tindak lanjut Bapak Gubernur, kami ucapkan terima kasih.
Hormat kami,
Warga Desa Mekar Tani
Kecamatan Mendawai, Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah